Rabu, 21 Desember 2016

Irwan Hernawan Sosok Pengusaha Muda Dibalik Suksesnya Berkah Catering

Meski usianya masih sangat muda, di tahun 2014 Irwan Hernawan (27) berani keluar dari zona nyaman dan memilih terjun memulai bisnis catering rumahan. Berbekal hobinya mencicipi berbagai macam hidangan kuliner, Irwan yang sebelumnya tak memiliki bekal pengalaman di dunia bisnis ataupun keahlian dalam hal masak-memasak, coba-coba iseng membuka jasa pesanan catering nasi kotak.

Saat itu Irwan yang masih bekerja sebagai finance akunting manager di sebuah perusahaan di surabaya mengawali karir bisnisnya dengan membuka bisnis warung makan. Tapi sayang karena kesibukannya di kantor, warung makan tersebut terpaksa ditutup. Setelah gagal menjalankan bisnis warung makan, pemuda kelahiran 23 January 1989 ini tak lantas menyerah, ia justru semakin penasaran dan kembali mencoba peruntungan di bisnis catering.

“Pada saat itu, saya langsung memilih nama untuk bisnis katering yang akan saya jalani, yaitu Berkah Catering. Kami resmi mendirikannya di bulan oktober 2014 tepatnya di Surabaya, dengan melayani pesanan katering nasi kotak untuk rumah tangga dan kantoran,” ujarnya,

Sedari Awal Tertarik Jalankan Bisnis Catering Online

Berkah catering melayani jasa katering pernikahanBerbeda dengan pemain bisnis serupa yang ada di Surabaya, Irwan yang sejak awal tertarik mempelajari sistem marketing online lebih memilih pangsa pasar yang dibidik dari dunia maya. “Pangsa pasar yang saya targetkan adalah dari online, oleh karena itu hal pertama yang saya lakukan adalah membuat website, dan aktif promosi melalui sosial media dan forum,” tambah pengusaha muda lulusan S2 di salah satu universitas swasta di Jakarta.
Dengan memanfaatkan perkembangan situs media online, pengusaha muda yang akrab disapa Irwan ini mencoba mempromosikan bisnis catering yang ia jalankan melalui sosial media. Tak sia-sia, inovasi yang ia lakukan dalam mempromosikan bisnisnya membuahkan hasil yang positif.
Hanya dalam kurun waktu 1 tahun saja, bisnis katering milik Irwan sudah melesat sangat pesat. Bahkan tak hanya melayani permintaan catering nasi kotak saja,  Berkah Catering mulai menjajal peruntungan baru dengan mendedikasikan dirinya sebagai salah satu jasa penyedia catering prasmanan untuk berbagai acara.
“Saya sadar betul saya tidak memiliki pengetahuan apapun tentang bisnis catering prasmanan kala itu, tapi niatan saya tidak tergoyahkan, saya mulai mencari artikel di internet tentang bisnis catering prasmanan, khususnya wedding. Setelah satu bulan berjalan saya mempelajari seluruh teknis pelayanan catering prasmanan, akhirnya saya memantapkan diri untuk memulainya di tahun 2015,” cerita Irwan kepada tim liputan BisnisUKM.com.
Persiapan karyawan Berkah CateringMeski bisa dibilang modal yang dimiliki Irwan sangatlah minim, tapi dengan pengalamannya yang sudah pernah bekerja di perusahaan F&B (food & beverage) ia tak mengalami kesulitan ketika membuat penawaran paket catering prasmanan. Tidak hanya itu saja, ia juga mulai mencari vendor untuk persewaan peralatan catering prasmanan.
“Jujur saja modal saya nol pada waktu itu dalam menjalankan bisnis catering prasmanan ini. Setelah menemukan vendor, sayapun mulai memasarkan bisnis catering prasmanan saya ke pasar online. Terbukti, beberapa minggu dipromosikan online alhamdulillah saya mendapat respon pasar sangat baik, Sampai akhirnya saya mendapatkan satu klient pertama kala itu. Pertama kali saya mendapatkan pesanan adalah untuk catering prasmanan di sebuah acara reuni SMA sebanyak 150 pax,” tutur Irwan sembari mengenang pengalamannya saat itu.

Mulai Jajal Pasar di Luar Surabaya

Tim sukses berkah cateringSeiring berjalannya waktu Berkah Catering semakin berkembang pesat, banyak project pernikahan yang ditanganinya dari mulai acara gedung maupun rumahan. Secara harga, Berkah Catering memang diunggulkan dibandingkan kompetitor lain yang memiliki harga lebih mahal. Didukung juga dengan rasa yang berkualitas, membuat bisnis catering ini lebih cepat dikenal di area Surabaya, Sidoarjo dan sekitarnya.

Tak berhenti disitu saja, ternyata sang owner Irwan Hernawan memiliki pandangan lebih luas lagi untuk mengembangkan Berkah Catering ke area lainnya di Jawa Timur, seperti Gresik, Mojokerto dan Malang. Untuk mewujudkan impiannya, pengusaha muda ini mula memperluas jangkauannya dengan cara bekerjasama dengan para wedding organizer yang ada di wilayah Surabaya dan Sidoarjo.
“Dari bisnis catering ini, dalam sebulan saya bisa mengantongi omzet sekitar Rp 75 juta – 200 juta. Karena biasanya bisnis catering tergantung dengan musim pernikahan,” jawabnya sembari tertawa.

Kini, melihat pertumbuhan bisnisnya semakin positif, Irwan pun mulai menata tim manajemen yang lebih profesional di bawah naungan PT. Berkah Kulina Nusantara. “Saya tidak ingin jika berkah catering hanya berkembang secara segi operasional saja, akan tetapi manajemen juga perlu diperhatikan,” tandasnya.
Kendati usianya masih sangat muda, Irwan bersyukur bisnis catering kotakan yang dulunya dimulai dengan modal nol, lambat laun mulai berkembang menjadi bisnis catering besar di Surabaya yang melayani catering pernikahan.
“Pemasaran berkah catering secara online terbukti berhasil, karena pesanan lebih banyak datang dari pasar online dibandingkan offline,” pungkasnya.

Sumber : http://bisnisukm.com/irwan-hernawan-sosok-pengusaha-muda-dibalik-suksesnya-berkah-catering.html

Rabu, 06 April 2016

Kisah Cerita Inspiratif dari CEO Google Sundar Pichai


Kisah Cerita Inspiratif dari CEO Google Sundar Pichai, kisah inspiratif dibalik kecoa yang menjijikkan

Sundar Pichai sekarang menjabat sebagai CEO Google, dan mulai terkenal karena jabatannya tersebut. Pichai lahir di Tamil Nadu, India pada tahun 1972. Dia dikenal oleh karyawan Google sebagai seseorang yang selalu berhasil merealisasikan rencana menjadi kenyataan. Beberapa proyek yang sukses ditanganinya yakni browser Chrome dan Android.

Sundar Pichai memang dikenal sebagai orang yang ramah, cerdas, dan pekerja keras. Ada sebuah kisah inspiratif dari pidato Sundar Pichai kepada anak buahnya. Ia berpidato tentang kisah inspiratif dibalik kecoa yang menjijikkan.

Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suatu tempat dan mendarat di seorang wanita. Dia mulai berteriak ketakutan. Dengan wajah yang panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha keras untuk menyingkirkan kecoa tersebut.

Reaksinya menular, karena semua orang di kelompoknya juga menjadi panik. Wanita itu akhirnya berhasil mendorong kecoa tersebut pergi tapi … kecoa itu mendarat di pundak wanita lain dalam kelompok. Sekarang, giliran wanita lain dalam kelompok itu untuk melanjutkan drama.

Seorang pelayan wanita bergegas ke depan untuk menyelamatkan mereka. Dalam sesi saling lempar tersebut, kecoa berikutnya jatuh pada pelayan wanita. Pelayan wanita berdiri kokoh, menenangkan diri dan mengamati perilaku kecoa di kemejanya. Ketika dia cukup percaya diri, ia meraih kecoa itu dengan jari-jarinya dan melemparkan nya keluar dari restoran.

Pichai menyeruput kopi dan menonton hiburan itu, antena pikirannya mengambil beberapa pemikiran dan mulai bertanya-tanya, apakah kecoa yang bertanggung jawab untuk perilaku heboh mereka?

Jika demikian, maka mengapa pelayan wanita tidak terganggu?  Dia menangani peristiwa tersebut dengan mendekati sempurna, tanpa kekacauan apapun.

So, para hadirin.. CEO dari India ini kemudian bertanya. “Lalu apa yang bisa saya dapat dari kejadian tadi?”

Ia melanjutkan pidatonya. “Dari tempat saya duduk, saya berpikir.. Kenapa 2 wanita karir itu panik, sementara wanita pelayan itu bisa dengan tenang mengusir kecoa?

Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan kedua wanita karir dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.

Kecoa memang menjijikkan, tapi ia akan tetap seperti itu selamanya. Tak bisa kau ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan.

Begitupun juga dengan masalah. Macet di jalanan, atau istri yang cerewet, teman yang berkhianat, bos yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, target yang besar, deadline yang ketat, customer yang demanding, tetangga yang mengganggu, dan sebagainya. Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan.

Tapi bukan itu yang membuat semuanya kacau. Ketidakmampuan kita untuk menghadapi yang membuatnya demikian.

Yang mengganggu wanita itu bukanlah kecoa, tetapi ketidakmampuan wanita itu untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kecoa tersebut.

Di situ saya menyadari bahwa, bukanlah teriakan ayah saya atau atasan saya atau istri saya yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh teriakan merekalah yang mengganggu.

Reaksi saya terhadap masalah itulah yang sebenarnya lebih menciptakan kekacauan dalam hidup saya, melebihi dari masalah itu sendiri.

******

Hikmah dibalik kisah diatas :

Para wanita bereaksi, sedangkan pelayan merespon. Reaksi selalu naluriah sedangkan respon selalu dipikirkan baik-baik. Sebuah cara yang indah untuk memahami hidup. Orang yang bahagia bukan karena semuanya berjalan dengan benar dalam kehidupannya. Dia bahagia karena sikapnya dalam menanggapi segala sesuatu di kehidupannya benar!

Itulah kira-kira hikmah yang dapat diambil dari sebuah kisah inspiratif dari pidato CEO Google, Sundar Pichai. "Masalah adalah sebuah masalah, respon kita lah yang akan menentukan bagaimana akhir dari sebuah masalah".

Minggu, 10 Januari 2016

Kekayaan yang Sebenarnya Bukanlah Terletak Pada Angka, Melainkan Pada Senyuman Bahagia Pada Wajah Anda



Ia mulai dari tidak ada apa-apanya bekerja sebagai kuli bangunan hingga akhirnya berhasil menjadi kepala bagian. Kemudian ia membentuk tim pekerja tersendiri yang akhirnya berkembang menjadi sebuah perusahaan konstruksi.

Sang istri yang mendampingi pria ini sejak kuli bangunan, semakin hari tampak semakin tua. Tubuh yang dulunya langsing, sekarang tampak kasar berotot, kulit pun tidak sehalus dulu. Dibandingkan dengan beribu wanita cantik di luar sana, ia tampak terlalu sederhana dan pendiam. Kehadirannya senantiasa mengingatkannya akan masa lalu yang sukar.

Sang suami berpikir, inilah saatnya pernikahan ini berakhir. Ia menabungkan uang sebesar 1 miliar ke dalam bank istrinya, membeli juga baginya sebuah rumah di daerah kota. Ia merasa, ia bukanlah suami yang tak berperasaan. Sekiranya ia tidak mempersiapkan bekal bagi hari tua istrinya, hatinya pun tidak tenang......

Akhirnya, ia pun mengajukan gugatan cerai kepada istrinya.

Sang istri duduk berhadapan dengannya. Tanpa berbicara sepatah katapun ia mendengarkan alasan sang suami mengajukan perceraian. Tatapannya terlihat tetap teduh dan tenang. Ketika hari sang istri pergi dari rumah pun tiba, sang suami membantunya memindahkan barang-barang menuju rumah baru yang dibelikan oleh suaminya. Demikian pernikahan yang telah dibangun selama hampir 20 tahun lebih itu pun berakhir begitu saja.

Sepanjang pagi itu, hati sang suami sungguh tidak tenang. Menjelang siang, ia pun terburu-buru kembali ke rumah tersebut. Namun ia mendapati rumah tersebut kosong, sang istri telah pergi. Di atas meja tergeletak kunci rumah, buku tabungan berisi 1 miliar rupiah dan sepucuk surat yang ditulis oleh istrinya.

" Saya pamit, pulang ke rumah orang tua saya. Semua selimut telah dicuci bersih, dijemur di bawah matahari, kusimpan di dalam kamar belakang, lemari sebelah kiri. Jangan lupa memakainya ketika cuaca mulai dingin.

Sepatu kulitmu telah kurawat semua, nanti bila akhirnya mulai ada yang rusak, bawa ke toko sepatu di sudut jalan untuk diperbaiki.

Kemejamu kugantung pada lemari baju sebelah atas, kaos kaki, ikat pinggang kutaruh di dalam laci kecil di sebelah bawah.

Setelah aku pergi, jangan lupa meminum obat dengan teratur. Lambungmu sering bermasalah. Aku telah menitip teman membelikan obat cukup banyak untuk persediaanmu selama setengah tahun.

Oh ya, kamu sering sekali keluar rumah tanpa membawa kunci, jadi aku mencetak 1 set kunci serta kutitipkan pada security di lantai bawah. Semisalnya kamu lupa lagi membawa kunci, ambil saja padanya.

Ingat tutup pintu dan jendela sebelum pagi-pagi berangkat kerja, kalau tidak, air hujan dapat masuk merusak lantai rumah.

Aku juga membuatkan pangsit. Kutaruh di dapur. Sepulang dari kantor, kamu dapat memasaknya sendiri "

Tulisannya jelek, sukar dibaca. Namun setiap huruf bagaikan selongsong peluru berisikan cinta tulus, yang ditembakkan menghujam jauh ke dalaman ulu hatinya.

Ia memandang setiap pangsit yang terbungkus rapi. Ia teringat 20 tahun yang lalu ketika ia masih menjadi seorang kuli bangunan, teringat suara istrinya memotong sayur, mempersiapkan pangsit di dapur, teringat betapa suara itu bagikan melodi yang indah dan betapa bahagianya ia pada saat itu. Ia pun tiba-tiba teringat janji yang diucapkannya saat itu: "Saya harus memberi kebahagiaan bagi istri saya."  

Detik itu juga ia berlari secepat kilat segera menyalakan mobilnya. Setengah jam kemudian, dengan bersimbah keringat, akhirnya ia menemukan istrinya di dalam kereta.

Dengan nada marah ia berkata, "Kamu mau ke mana? Sepagian aku letih di kantor, pulang ke rumah sesuap nasi pun tak dapat kutelan. Begitu caranya kamu jadi istri? Keterlaluan! Cepat ikut aku pulang!"

Mata sang istri berkaca-kaca, dengan taat ia pun berdiri mengikuti sang suami dari belakang. Mereka pun pulang. Perlahan, air mata sang istri berubah menjadi senyum bahagia.

Ia tidak mengetahui bahwa sang suami yang berjalan di depannya telah menangis sedemikian rupa. Dalam perjalanan sang suami berlari dari rumah ke stasiun kereta, ia begitu takut.. Ia takut tidak berhasil menemukan istrinya, ia sangat takut kehilangan dia.

Ia menyesali dirinya mengapa dirinya begitu bodoh hingga hendak mengusir wanita yang begitu ia cintai. Kehidupan pernikahan selama 20 tahun ini ternyata telah mengikat erat-erat mereka berdua menjadi satu.

*****
Kekayaan yang sebenarnya bukanlah terletak pada angka di dalam buku tabungan, melainkan terletak pada senyuman bahagia pada wajah Anda.

Source: Love Laugh Life